Curhatan Tak Berjudul
matahari itu tetap saja berjalan, terbit dan tenggaelam di tempat yang sama
lalu, ketika malam kembali purnama, aku berdiri, rukuk dan sujud tanpa henti, merapalkan doa² tanpa keraguan sampai dunia berubah warna.
kusaksikan segala yang disaksikan untukku, tanpa derap untuk menolak atau merayap ke arah sebaliknya.
segumpal daging warna coklat di tanduk usia, melelehkan mimpi pada setiap jejak di dada bumi. mengaduk bahagia dan derita dalam satu bejana.
jari² kegelapan silih berganti menyekap wajah.hingga semua terasa kelam dan berdarah.tanpa rupa.tanpa bayangan dan petuah
gerbong waktu berderak di tengah zaman
menyeret berbagai peristiwa tanpa selesai
meledakkan musibah, bencana dan kerusuhan
pada tiap rumah dan stasiun yang terberai
lalu, kuberanikan diri untuk bertanya kepada para pemimpi.tetapi mereka justru balik bertanya dan meminta aku untuk mencari jawabannya.
aku terdiam dan mengeram
angin berbisik di atas rumput² yang bergoyang
doa-doa harus dihidupkan
panji-panji mesti dikibarkan
sepotong jarum menyala di antara dua jantung yang berdetak.jiwa² memutih, terpilin oleh cahayanya.panas airmata mendidih.mematangkan segumpal darah dalam setiap diri.kubah² membuka pintu Al-fatihah.menggugurkan daun dan segala hikmah ke dasar tanah.mengajak kembali ke dalam sunyi.
Belum ada komentar
Leave a reply