Nikmat mana yang kau dustakan (lagi)?

4:45am 0300402012

Getar terasa, tapi entah dimana, teriakannya yang kemungkinan sudah sejak setengah jam tadipun terdengar nyaring di telingaku. Nyawaku belum kembali sempurna, namun tarian dan nyanyian ponselku yang sebenarnya sejak jam 4.30an tadi konser sudah kutaklukan.

4:45, 11 Missed Call, 5 Received Messages

Kulirik RaTika yang memang kubiarkan stand by semalaman, layarnya menunjukkan angka yang sama, 4:45 am. Namun tanpa ada e-mail ataupun notifikasi apapun.  Nyawa sudah kembali utuh dengan sempurna, darah sudah sampai ke otak lagi. Waktunya untuk mencari tahu siapa yang menelepon hingga 11 kali, dan mengirimkan 5 pesan.

4 Missed Call : Tidak diketahui nomor siapa (waktu menelepon antara 4:00 – 4.30)
3 Missed Call : Bulek di rumah (waktu menelepon antara (4.10 – 4.40)
2 Missed Call : Aba (3.00 – 4.30)
2 Missed Call : Nenek yang tukang bangunin aq😛 (ga usah disebutin yah😛 )

2 Messages dari si nenek pikun, yang menanyakan aku sudah bangun atau belum
3 Messages dari bibi semua, isinya serupa, dalam bahasa Indonesia “Nak, telepon balik, cepat! PENTING!”

Mendadak jantung bekerja cepat, darah mengaliri tubuh, panas, dahipun berkeringat. *wow calm pal, calm pal. All izz well All izz well* perintahku menirukan gaya baba Ranchordas Chanchad di film Three Idiot sambil elus-elus dadaku. Ada apa ini? Sesuatu burukkah? Tapi inderaku tidak bekerja sama sekali, seperti tidak terjadi apa-apa disana.

Aku tak langsung menelpon, dan ponselkupun aku silent-kan. Aku lebih memilih memenuhi panggilan Tuhanku yang sebenarnya sudah agak telat dan menenangkan pikiran. Meminta agar diberi kekuatan saat nanti mendengar berita apapun dari seberang sana.

Setelah sholat, duduk manis, bersenderkan bantal yang sudah berubah seperti atlas (upsss) aku langsung menelepon bibiku, kurang lebih begini percakapannya:

A: Assalamu’alaikum bi, knp?
B: Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
B: Kamu ga kenapa-kenapa? Lagi dimana sekarang?
A: Gpp, emang kenapa? Masih di tempat yang dulu belum pindah
B: Tadi ada yang nelepon Abamu, jam 3an, bilang katanya kamu kecelakaan!
B: Disini coba hubungi kamu semua, tadi yang belakangnya nomor xxx itu nomornya mami, tapi ga kamu angkat
(gimana mau kuangkat…orang di alam mimpi ga ada jaringan -____-‘ )
A: HA!?Aq ga tau, aq baru tidur jam setengah 3 tadi, emang ngomong gimana orangnya?
B: Jadi tadi jam 3an ada yang nelepon abamu ngomong gini
P: Assalamu’alaikum pak xxx (nama abaku) *suaranya seperti sedang menangis
Ab: Wa’alaikumussalam Wr. Wb siapa ya?
P: Ini anakmu pak, David, kecelakaan, kena tabrak lari, sekarang di RS sedang diopname
Ab: Loh RS mana?
….
udah gitu aja langsung diputus sama disana, aba langsung hubungi kamu saat itu juga. Tapi ga ada balesan dari kamu. Jadi kamu gpp?

A: Gpp, yaudah biarin aja. Ga sempet minta-minta duit untuk keperluan aku kan?
B: Nggak
A: Yaudah kalo gitu aq mau tidur lagi. Wassalamu’alaikum
B: Yaudah, ati-ati kamu disana Wa’alaikumussalam Wr. Wb
[tuut]

Tahu nomer ponsel Aba, tahu aku “David” sedang tidak tinggal dengan Aba. (se)Harus(nya) tahu juga kalau keluargaku itu bukan keluarga kaya yang walaupun saya beneran kena tabrak saat itu, aba langsung bisa ke tempatku sekarang. Mau nipu juga ga mungkin, rekening tabungan keluargaku saja minus, gara-gara diambil tiap bulan untuk biaya administrasi bank, dan aba ga pernah nabung ke bank.

Pagi-pagi sudah dibuat kesal, kesalpun entah ke siapa. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan abaku saat itu, pucat? lunglai? untung saja beliau tidak punya penyakit jantung. Semoga saja waktu itu aba tidak membagi rasanya ke mama yang sedang di negeri antah berantah.

Aku masih heran dengan orang yang menipu abaku tersebut. Sebegitu parahkah keadaan ekonominya? Sehingga untuk mendapatkan rejeki saja harus menipu orang lain, harus mengorbankan perasaan orang lain, atau bahkan bisa jadi mengorbankan nyawa orang lain?
Ah biarlah yang penting keluargaku tidak apa-apa.

Teringat aku pada sebuah surat di Al-Qur’an, dimana ada satu frase disana yang diulang sebanyak 31 kali.

“Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”

Sepertinya memang aku kurang bersyukur, ternyata aku masih diatas orang-orang yang mau menipu keluargaku tersebut. Sepertinya memang aku kurang bersyukur, karena sering menganggap aku orang yang paling susah di dunia ini. Ah, maafkan ya Tuhan aku sering tidak sadar akan kasihMu, namun sekarang sekali lagi kau membuktikan sayangMu. Terima kasih juga, karena Engkau tidak merestui mereka berbuat lebih jauh lagi terhadap keluargaku. Terima kasih.

4 comments so far

  1. leeanel on

    “maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan????”

    mari bersyukur…..^_^

  2. rikadwiswara on

    hmm

  3. inmybrainmyhead on

    temen ku juga pernah vid. komplotan lho itu. ada yang jadi dokter, dsb. pasalnya, dari mana mereka dapet informasi sedetail itu…kau kan anak IT. gimana tuh caranya?ngerti ndak?

  4. Susie Wae on

    Semangat!tetap brsyukur🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: