Penipu ala Preman Terminal Tawang Alun

3.45am Terminal Tawang Alun-Jember.

Akhirnya bis yang kunanti hampir dua jam itu tiba. Masih kosong, beberapa orang yang bersama menunggu berhamburan masuk. Mencari tempat duduk yang bisa membuat mereka tidur nyenyak sampai tujuan.
15 menit berlalu, si sopir juga belum kelihatan batang hidungnya, belum diketahui kapan mau berangkat. Aku memutuskan untuk tidur saja, toh nanti si kondektur juga akan membangunkanku.

“OH YA KATANYA TADI ADA YANG KEHILANGAN TASNYA, SIAPA!?”
Nada setengah berteriak itu mengagetkanku yang sedang berada diantara alam sadar dan alam tidur.


“Saya pak, tadi” jawab lesu seorang penumpang di belakang. Kaos kuning, berperawakan gemuk, tinggi.
“Kok bisa hilang mas? Emang mau kemana? Duitnya di tas semua?” orang ini masih saja setengah berteriak dari depan bus, sebelah tempat sopir.
“Ada yang kehilangan tas mas” orang yang baru saja duduk di sampingku memperjelas,”emang gue budhek!?” jawabku, tentu saja hanya ada dalam benakku.
Si gemuk di belakang menjawab lesu “ya gimana lagi mas, namanya musibah, saya mau ke Sumatera”,  suara lesunya tidak berbanding lurus dengan mimik wajahnya yang datar-datar saja, tak ada emosi seperti wajarnya orang kehilangan.

Sekali lagi orang yang di depan setengah berteriak. “Loh sampean mau kemana? Punya duit kok mau naik bis?”
Nada bicara, gerak tubuh, mimik wajah, terkesan memaksa semua yang ada dalam bis memperhatikannya. Walau sebenarnya dia sudah mendapat perhatian penuh dari para penunmpung yang sedari tadi kesal karena bis ngetem terlalu lama.
“Trus tadi bilang mau jual apa mas?” lanjutnya
“Ini mas, arloji, aku beli di Saudi 700 real” jawab si gemuk sembari memberikan arloji yang berwarna keemasan tersebut ke orang yang dari tadi teriak-teriak ga jelas.
Orang yang teriak-teriak di depan itu (sebut saja si OYT sekarang) mengambilnya, diperhatikannya arloji itu sembari berkomentar “wah pantes ya mahal, ini emas 24 karat; aku beli Rp. 700.000 dah mas, gimana?”
“wah ga bisa mas, itu kan 700 real mas, 1 real kan sekitar 3000an” jawab si gemuk di belakang.

Penumpang lain hanya tolah toleh, yang baru masuk bis pun tak ketinggalan memberi perhatiannya ke drama yang sedang di gelar di atas bus ini.
“Ku tukar tambah HP gimana mas?” orang sebelahku ikut-ikutan menawar jam tersebut. Lalu ia menyapaku, “kasian mas, tasnya ilang, mas bawa duit berapa? *loh?
“Kenapa gitu?” jawabku sambil cengangas-cengeges ketus😀
“bla bla bla” ga jelas dia jawab apa
tiba-tiba si OYT menggertakku sambil bertanya “mas bawa HP apa?”
“ooh saya bawa Nokia mas, 3510. kalau mau boleh tuh dituker jamnya” sambil aku bersiap membuka kerirku.
tanpa isyarat, tanpa babibu, tak ada angin, tak ada hujan #hasyah semuanya keluar barengan.

Ada rasa ingin membantu si gemuk, menyisihkan beberapa rejeki untuk si gemuk, sekedar ongkos agar ia bisa kembali ke alamnya banyuwangi. Sampai mereka turun dari bispun aku masih berpikiran positif. Mungkin saja mereka tawar menawar di luar bis. Ah aku harus meyakinkan diriku, butuh bukti.

Penasaran, akupun kekluar bis, tentu saja bersama kerir yang penuh itu, tak ingin aku lengah sedikitpun. Dan benar firasatku, mereka memang komplotan, sedang ngobrol dengan bahasa ibu mereka yang keebetulan sama dengan bahasa ibuku. Kudengar lirih salah satunya menyalahkan yang satu, gara-gara kurang actingnya dsb.

Ah kubiarkan saja mereka, aku kembali ke tempat dudukku. Tak tahu harus berhamdalah atau membaca innalilah? Karena aku tidak jadi korban penipuan, atau aku kurang cepat bersedekah?😀

Memang kita harus baik kepada orang lain, saling tolong menolong, tapi janganlah sampai kebaikan kita dimanfaatkan dengan cara yang salah oleh orang lain. *jadi inget si ulet beberapa tahun silam :p

7 comments so far

  1. rikadwiswara on

    ada juga ya modus kayak gini, baru tau :p

    • dave on

      makanya naek bis ekonomi dong jgn naek mobil mulu #eh :p

      • rikadwiswara on

        pernah kok, abis itu kapok, aku pilih kereta dah hahaha :p too much people inside the bus.

  2. rikadwiswara on

    baru tau ada penipuan yang kek gini..

  3. leeanel on

    rasanya pnah mnglami hal yang serupa___cuma beda setting t4 n waktu ajah….

    #waspadalah!😀

    • dave on

      ah itu hanya perasaan anda saja :p

  4. masda on

    Kejadian tersebut biasanya mulai rambipuji sampe terminal tawang alun, dan itupun berlangsung mulai tahun 2004 sampe sekarang, anehnya kok seperti sengaja dibiarkan. padahal sy tiap hari pake bis, selalu terjadi dan terjadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: