First

Surabaya, 17 Juli 2010

Aku duduk diantara taxi-taxi yang sedang berbaris rapi ditinggal pengemudinya. Senyap, dan menunggu. Sebotol air mineral yang kubeli sebelum aku berangkat kesini sudah habis beberapa menit  yang lalu. Tinggal botolnya yang hantam-hantamkan ke badanku yang sudah mulai kecapekan. Sesekali kujadikan raket untuk memukul nyamuk-nyamuk keparat yang sedari tadi hanya membuat suara gaduh di sekitar kepalaku. Beberapa kali sopir taxi dan satpam setempat melihatku dengan aneh, “sedang bermain bulu tangkis dengan jin mas?” begitu raut wajahnya kubaca.

Karena bosan, lelah, dan marah dengan gangguan nyamuk yang sepertinya memanggil satu kompi pasukannya untuk menghajar babak belur diriku, aku beranjak pada bagian terang. Hasilnya ternyata tidak buruk juga. Gangguan nyamuk berkurang drastis (mitos drakula takut cahaya kemungkinan besar dimulai dan terinspirasi dari nyamuk keparat itu). Dan tiba-tiba saja aku teringat permainan masa kecilku: membentuk bayangan aneka hewan dengan tangan. Sekarang aku melihat bayangan diriku membentuk pola di dinding. Kalau aku menggaruk-garukan tanganku persis seperti yang kulakukan saat ini sisa gatal ungkapan cinta si nyamuk keparat, akan terlihat si bayangan menggaruk-garuk juga. Seperti pertunjukan wayang kulit. Hanya saja aku merangkap dalang dan wayangnya sekaligus. Memang konyol, aku sadar itu, jadi berhentilah menertawakanku.

Di bawah lampu neon, laron-laron terlihat beterbangan. Sebagian bahkan terlihat menari-nari acak. Tinggal memainkan lagu “Darah Muda”, kamu akan melihat laron-laron itu akan joget seatraktif dan pasti lebih hebat dari Roma Irama dan group Sonetanya. Aku memutar lagu itu di dalam kepalaku dan sangat tergoda untuk menyenandungkannya tapi tidak kulakukan takut ikutan menari juga. Dari bayangan baur di kaca, aku melihat diriku kusut. Rambut sudah tak tahu bagaimana modelnya, kaos hitam, jaket komunitas dunia maya hitam, jeans hitam, sendal jepit pun hitam. Hanya putih gigi dan pantulan retina yang terkena cahaya tanda adanya manusia disana.

Tak banyak yang bisa dilakukan saat menunggu seseorang yang tak ingin menyergapmu, mendapati dirimu malah sedang baca novel atau cekikikan memainkan HP. Aku ingin terlihat seperti menantu kiai pesantren yang alim, pendiam, tabah, dan suci saat orang yang kutunggu nanti datang melihatku. Akting memang sebuah seni yang tak mudah. Pantas saja para aktris sinetron itu aktingnya busuk sekali. Aku merasa aku harus menuntut juri Academy Awards dan meminta jatah piala untuk peranku saat ini. Tentu saja hadiahnya bukan patung si Oscar telanjang yg dibalut emas, tapi rumah keong yang disepuh dengan omong-kosong. Karena nyatanya memang aku sedang memainkan HP, tidak cekikikan, tapi bersumpah serapah yang kukeluarkan.

Sudah jelas bukan hanya aku yang gelisah menunggu seonggok besi itu untuk segera merapat. Mbak-mbak penjaga tiket diujung ruanganpun terlihat gelisah sejak tadi hanya memainkan HPnya saja tak memperdulikan godaan satpam rekan kerjanya. Sejak aku duduk disini, sopir taxi di sebelahku sudah menghabiskan lima batang rokok dan menjejalkan asapnya ke mulutnya. Ibu paruh baya hanya bisa bolak-balik dari pintu satu ke pintu lainnya, tentu saja diikuti kedua anaknya yang masih balita. Seperti barisan semut yang baru saja menemukan remah-remah makanan, mengikuti sang pemimpin di depan, tak peduli mau dibawa kemana. Sami’na wa ato’na.

Satu jam setengah adalah waktu sangat cukup untuk seorang pilot maskapai ternama membawa beberapa puluh orang dari Juanda ke Soekarno Hatta, seorang Valentino Rossi melakukan beberapa putaran di Sepang, Juventus mempertahankan skor 2-0 dari Cagliari sehingga mendapatkan gelar scudetto musim ini. Tapi bagiku belum cukup untuk membuat daftar kebusukan kinerja negara ini yang menyebabkan seonggok besi ini belum juga menampakkan dirinya.

Sebuah suara khas yang kemungkinan hadir sejak 1930an silam terdengar kencang. Selajutnya adalah suara seorang pria yang sedang membacakan pengumuman layaknya pembagian hadiah saat lomba 17 agustusan. Seonggok besi itupun muncul, satu-satunya mata yang ia miliki memberikan peringatan agar siapapun minggir dari jalannya, jalan yang sudah ratusan tahun hanya boleh dilewatinya. Cicit seperti suara tikus bermunculan, bau-bau sepuhan baja tercium dari kejauhan. Bak ada tsunami, para sopir taxi, dan semua orang yang sedari tadi duduk-duduk santai berlarian ke dekat pintu utama. Berdesakkan, saling membawa kertas bertuliskan nama dan alamat. Termasuk aku, berdiri dalam gerombolan seperti antri penerimaan sembako tersebut.

Dari arah berlawanan orang-orang menggotong tas-tas besar, ada yang menyeretnya, raut wajah yang mengembang, tak peduli sudah berapa lama ia diombang-ambingkan dalam besi tua itu. Seorang anak di sebelahku berlari kecil ke depan, “ayaaah” teriaknya sambil lompat ke seorang pria yang sedang membawa tas jinjing di kanannya dan ransel besar dibelakangnya. Seorang wanita berjilbab menyusul anak kecil tersebut, mencium tangan si pria, lalu membawakan tas jinjingnya. Dan mungkin jika bukan karena getaran HP di saku jeans ku, aku akan terus memperhatikan mereka.

“kreta sdh brhenti, kk nunggu dimana?”
Sambil berdiri kubaca baris kalimat tersebut. Jantungku berdegup keras, darah terasa tiba-tiba membanjiri otakku. Mengingatkan apa tujuanku ada disini, berbaur dengan para sopir taxi yang sedari tadi menawari kunci-kunci mobil taxinya.
Layaknya burung hantu yang sedang bertengger di pohon, mataku memperhatikan setiap manusia yang keluar dari ruangan itu, sambil jemariku menari menuliskan pesan singkat “ikuti saja orang-orang keluar”.

“hey!assalamu’alaikum!”
Tiba-tiba ia meraih tanganku, lalu menempelkan ke dahinya. Sepersekian detik darah yang sebelumnya tiba-tiba membanjiri otakku, sekarang tiba-tiba macet, tak mau bergerak. Aku hanya tersenyum padanya, memperhatikan jilbab hitamnya, jaket hitamnya, tas plastik di tangan kirinya, hidung peseknya, senyumannya, matanya yang sayu, dan wajahnya yang sudah mulai kusam. Belum puas kumemandangnya, ia mengagetkanku sambil menaruh tangannya di dahiku.
“ieeee kk pendeeek” polosnya sambil tersenyum.

~Raka ♥ Risha, pertemuan pertama

***

Catatan kelima dari sebelas catatan yang ditulis oleh seorang teman tentang ia dan kekasihnya, Risha. Catatan-catatan ini kutemukan dalam buku hariannya, dibalut sebuah syal coklat bertuliskan inisial Raka yang dibuat oleh tangan Risha sendiri. Sebuah gantungan kunci terbuat dari kain flanel bertuliskan I ♥ U diselipkan dalam buku harian ini. Bersama tumpukan foto Risha dan pin yang bergambarkan Raka dan Risha sedang bergurau di area rumput hijau.
Raka, telah mati sekitar empat bulan yang lalu akibat tekanan batin yang mengguncang jiwanya.

1 comment so far

  1. marhyn on

    sambungan ceritanya mna mas???
    #bukannya mau kritik ato apa,, tp cm mau memberitahu,, di bagian bawah cerita yg menggambarkan Raka, kayag nya ada salah degh mas,, maaf,,😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: