[Catper] Tegal Panjang (Eps. 02)

Lima abad sebelum Galileo lahir. Tepatnya 4 Juli 1054, terlihat satu supernova paling terang yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Penduduk bumi yang benar-benar hidup saat itu pasti sangat beruntung bisa menyaksikan momen langka yang terlihat jutaan bahkan ratusan juta tahun sekali itu. Saking terangnya, supernova tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang di siang hari ketika semua benda langit tak bisa dilihat kecuali matahari. Ibn Butlan mencatat ledakan tersebut berasal dari rasi gemini. Catatan pengamatan yang diakhiri doa meminta perlindungan kepada Tuhan karena ketakutan yang tidak biasa tersebut. Sinar aneh terang yang tiba-tiba saja muncul di langit.

Dalam catatan sejarah, pengamatan supernova merupakan pengamatan sains secara kolektif pertama yang dilakukan bersamaan di berbagai penjuru dunia, paling lengkap dan paling rinci. Supernova adalah proses kematian bintang raksasa dengan cara meledakkan dirinya sendiri, persis dengan pelaku bom bunuh diri. Dalam ledakan tersebut, bintang mati akan melontarkan jutaan ton materi yang digunakan untuk membentuk bintang berikutnya. Bahkan ada yang terlontar sampai bumi, membentuk materi penyusun kehidupan lain, dan pembentuk bumi itu sendiri. Untuk menghasilkan kelahiran baru, diperlukan kematian terlebih dahulu. Begitulah semesta menjaga keharmonisannya. Kejam, brutal, dan penuh ledakan dahsyat. Namun indah.

***

Ketika aku melahap suapan terakhirku, aku belum bisa menebak, keindahan apa yang akan terjadi nanti dalam perjalanan kali ini. Setelah mendapat kabar, bahwa salah satu tenda yang akan kami pakai nanti tertinggal di angkot dan tak ditemukan jejaknya lagi.

 Kamis, 17 Mei, jam 7.3x

Aku duduk tepat diantara dua berkas cahaya yang datang dari pepohonan yang tumbuh di sekitar lapangan Tegalega. Selain menghindari cahaya silau, aku tak bermaksud menjadikan diriku sebagai vampir yang alergi cahaya. Kalau duduk di bagian berkas cahayanya, aku akan merusak keindahan saat itu. Tangan-tangan bayangan menjamah dan menyusuri tanah, menciptakan garis-garis tegas berselang seling.

Di bawah semburan cahaya matahari, debu-debu kasat mata terlihat beterbangan, sebagian berkelap-kelip memantulkan cahaya matahari. Sebagian terlihat berlari-lari pagi, serperti sepasang kekasih yang baru saja lewat secara cepat beberapa meter di depanku.

Sebenarnya aku ingin mengenalkan tim perjalananku ini semua kepadamu kawan. Seperti Dony Dhirgantoro mengenalkan “Power Rangers” dalam buku “5 cm”nya. Karena berbicara tentang catatan perjalanan, tak lengkap rasanya jika tidak tahu siapa saja orang-orang yang ada di dalamnya. Namun apa daya, aku hanya mengenal beberapa wajah saja saat itu. Selebihnya, paras-paras rupawan itu baru kulihat sekarang.

Tegalega – Cibutarua

Kali ini tak perlu kode-kode tangan dalam sarung layaknya tradisi barosok yang dikenalkan Ahmad Fuadi dalam negeri 5 menaranya, karena kami dan para sopir elf ini bukanlah orang Minang, juga bukakan sedang tawar menawar hewan. Tawar menawar dengan sopir elf, sudah dilakukan oleh beberapa teman. Dua elf bersedia mengantarkan 22  manusia ini sampai dusun Cibutarua, dengan mahar Rp. 31.000 per orang. Keong! Rp. 31.000 itu sudah lebih dari cukup untuk perjalanan enam jam dari Surabaya ke Banyuwangi via Kereta api ekonomi. Berapa lama lagi aku berada diatas roda? Enam jam lagi? 14 jam yang kuhabiskan semalam rasanya sudah cukup membuat tubuh ini luntang lantung.

Elf sedang menepi diantara ladang-ladang teh. Dua jam setengah lebih aku tertidur dalam elf. Perkebunan Malabar. Sebuah tugu ukuran jumbo berdiri tegak. Menunggu elf satunya yang sedari tadi belum kelihatan batang bempernya. Layaknya manusia-manusia lain di zaman dunia digital ini, agar terlihat exist, tentunya kami tak melewatkan waktu menunggu ini tanpa mengabadikannya dalam sebuah foto. Dan satu hal yang pasti juga, mengirimkan foto tersebut ke berbagai akun media sosial masing-masing.

Aku ingat betul semalam tidak ada meteor jatuh yang membombardir bumi apalagi hujan api. Entah jika di bumi antara pintu masuk perkebunan Malabar hingga dusun cibutarua ini, mempunyai langit yang berbeda dengan apa yang ditangkap retinaku tadi malam. Sang sopir elf sedang berusaha menajamkan ketelitian dan kewaspadaannya. Menyongsong jalan yang aku imani bekas gempuran meteor dan hujan api. Lubang-lubang besar layaknya kawah belerang di gunung Papandayan menganga dimana-mana. (Tentu kau tak sebegitu bodoh mempercayai omonganku tentang kawah itu, kan kawan?).

Persis seperti Indiana Jones yang melangkah pelan-pelan diantara ranjau mematikan di kuburan kuno. Bahkan kecepatan sopir ini mengemudikan kendaraan untuk menghindari  lubang kalah cepat dengan bayi yg merangkak karena sibuk berkelit. Walau pelan, kalau kau tak kuat, isi perutmu akan keluar secara paksa dari mulutmu.

Tanpa jalan berlubang itu, seharusnya kami sudah sampai Masjid di Cibutarua sejam yang lalu. Cumulus stratus memeluk langit Ciburatua. Beberapa orang dari kelompok sedang ke warung di selatan masjid, sebelah kiri jalan. Mengisi perut dan mempersiapkan bekal untuk nanti malam agar tak perlu lagi memasak. Sisanya, bersih-bersih dan sholat. Penanggung jawab perjalanan terlihat sedang sibuk dengan peta topografi dan kompas. Memastikan kebenaran jalur yang akan kami tempuh.

1 comment so far

  1. Putri on

    jadi inget lagi tegalpanjang …. kangen ilalng dan pakis anggun yang berdiri asing sendiri🙂 salam kenal mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: