[Catper] Tegal Panjang (Eps. 03)

Alam bekerja dengan cara yang tak mudah. Kita hadir di dunia ini pun hanya dalam waktu yang singkat. Rasa ingin tahu kita, hanya baru mengeksplorasi sepetak semesta. Bahkan planet yang kita pijakpun masih menantang pemahaman kita dengan banyaknya misteri-misteri yang belum terungkap. Tapi tak berarti kita tak bisa mempelajarinya sama sekali. Pemahaman manusia untuk bisa mengenali diri dan lingkungannya sudah dimulai sejak lama. Bahkan sejak manusia pertama hadir di bumi. Kekuatan alam yang dahsyat dan beringas, memerlukan penjelasan untuk bisa memahami perilakunya. Maka dewa dan mitospun tercipta. Petir terjadi karena dewa langit marah, gerhana terjadi karena naga raksasa menelan bumi, dan hujan terjadi karena sang dewi menangis.

Seiring waktu, kesadaran bahwa penjelasan-penjelasan supranatural tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan, semakin menantang. Rasa keingintahuan yang sangat besar melahirkan pengamatan. Dalam sejarah sains, gelar pengamat paling jeli pertama dihibahkan kepada manusia yang hidup di abad ke-6 sebelum masehi. Thales, orang yang sangat meyakini bahwa semesta dapat dipahami bagaimanapun caranya. Untuk membuktikannya, ia melakukan serangkaian pengamatan sistematis. Hasilnya, tahun 585SM untuk pertama kalinya gerhana matahari dapat diprediksikan secara akurat. Thales meramalkan waktu terjadinya gerhana matahari, mungkin disertai dengan tebak-tebakan yang untung-untungan. Tapi tak dapat dipungkiri, usaha tersebut telah membuat sejarah berbeda.

 ***

Masjid Cibutarua, Kamis, 17 Mei, 13.0x

“satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan”, “satu, dua, …”. Sang ketua perjalanan dengan semangat memimpin kami stretching. Beberapa anak-anak dusun setempat tak kalah heboh ingin meniru kami. Tertawanya lepas, gigi-gigi hitamnya tak malu ia tunjukkan kepada kami. Tangannya menengadah kepada langit, menirukan kami yang tak ia kenal.
Berdesakan, tangannya mengenggam, hanya jari telunjuk dan jari tengahnya yang ia keluarkan. Meloncat bersama, berteriak bersama, tatkala kawan kami di depan sana mengucapkan kata “tiga!”.

Aku tersenyum simpul, mengingat tingkahku saat kecil dulu. Sebuah lagu kesayangan yang judulnya kuimani adalah “Naik-naik ke puncak gunung”. Sambil melamun memikirkan lagu zaman kanak-kanak dulu, aku menggendong keril yang jauh lebih kecil dari keril kawan-kawanku. Kami bersiap untuk berangkat. Untuk naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.

Kampung Cibutarua-Tanah Papandayan
14.1x

Lafas-lafas harapan akan keselamatan dan tujuan juga mimpi menyeruak di tiap helaan kata dan doa-doa. Tak mau kalah, anak-anak kecil ini juga berdo’a. Entah apa doa’nya. Tapi mereka terlihat lebih khusuk daripada aku. Do’aku tak muluk-muluk, bukan puncak, atau apapun yang berbau pencapaian dan nafsu penaklukan. Hanya sebuah harapan agar perjalanan ini membuat kami lebih mengenal tentang makna sebuah perjuangan, persahabatan, kehidupan, dan alam.

Empat laki-laki di barisan depan, disusul gerombolan perempuan-perempuan hebat, sebagai tim sweeping, beberapa laki-laki di belakang. Matahari masih malu-malu menerangi kami. Hamparan dedaunan teh di kanan kiri kami terlihat mempesona. Jalanan basah dan berlumpur menjadi trek awal kami, sisa-sisa hujan entah kapan masih terlihat di genangan-genangan yang masih lebar. Hanya satu dua tanjakan, bertemu dengan sebuah perkampungan. Mungkin ini yang disebut kampung Papandayan. Perkampungan terakhir menuju Tegal Panjang.

Sekitar sejam perjalanan kami masih di area perkebunan teh. Beberapa tanjakan curam membuat rombongan terpisah agak panjang. Beberapa kali terhenti. Menunggu anggota lain agar tak tersesat. Sejauh mata memandang hanya ada teh, teh dan teh. Di salah satu pertigaan kami berkumpul.

Sang cumulus stratus terarak, terkumpul bertindih-tindih, tergantikan si cumulo nimbus. Terlihat air berjatuhan, keluar dari celah-celahnya. Semua disibukkan dengan raincoat, ponco, kantong plastik untuk melindungi barang-barangnya. Terkecuali aku, dan salah seorang kawanku. Aku melihatnya hanya kerilnya yang ia lindungi, namun badannya ia berikan kepada sang gerimis. Dan aku, membiarkan semuanya dibasahi sang gerimis.

Air mata dewi itu akan turun ke bumi menjadi hujan. Pasrah, meluncur ke apapun yang ada di bawah sana. Titik-titik air itu akan meluncur ke rerimbunan hutan, meresap ke dalam tanah, mengendap, terdiam, menunggu akar-akar tumbuhan untuk menemukannya dan meresaplah ia disana. Sang tumbuhan tiba-tiba akan jadi hijau segar, dengan ranting yang kokoh. Di tempat berbeda, titik-titik itu jatuh di saluran-saluran got kota. Kotor, sampah berserakan, mampet, bau
Lainnya jatuh di kali-kali hitam, atap-atap mobil yang digilas wiper yang kerjaannya hanya bergerak kekiri dan kekanan selama masa hidupnya. Ada juga yang jatuh di atap rumah, merembes ke langit-langit rumah karena bocor, dan berakhir di ember atau panci yang dijadikan tatakan. Ada yang jatuh di pelataran rumput, rumah sebuah keluarga. Merembes menjadi air tanah, tersaring mesin pompa rumahan, direbus di dandang, dan masuk ke botol minuman seorang perempuan muda, bersama titik air lainnya. Dan tak sedikit yang melayang, terarak mengikuti arah angin. Jauh meninggalkan titik-titik air yang lain. Terombang ambing di langit. Melewati kota dan desa-desa, hingga di sebuah hutan yang hijau. Lembah-lembah yang mempesona, langitnya biru lazuardi. Menyentuh tanah ibu pertiwi yang masih gembur. Menerusup ke dalam tanah, berkumpul, beriak-riak menjadi sungai bawah tanah. Indah, bukan buatan.

Biarlah titik-titik air ini menerpaku, membasahiku. Hujan ini mengingatkanku akan banyak hal. Rintik hujan selalu kurindukan, derasnya sangat menenangkan. Kau tau? Hujan itu tak pernah menyebabkan banjir, kawan. Manusialah yang enggan membersihkan sungai dan selokan. Hujan itu tak pernah membuat orang sakit. Daya tubuh orang sajalah yang lemah, tak pernah olahraga walau hanya sedikit. Rahmat dari Sang Kuasa yang berkahnya jarang disyukuri. Lebih banyak dicaci-maki. Sebuah contoh kesabaran dari alam, bagaimana tetesan-tetesan air bisa melubangi batu. Jika dan hanya jika, petir yang menggelegar sepersekian sekon itu bisa dimanfaatkan oleh manusia, sepertinya cukup untuk memberikan energi kepada sebuah kampung untuk satu tahun gazilion ke depan.

17.xx

Tanjakan yang kemiringannya melebihi 30 derajat ini memaksa kami beristirahat. Kabut mulai turun, perkebunan teh sudah tak terlihat. Di depan kami adalah belantara hutan. Semua tim mempersiapkan senter dan headlamp. Memasuki area hutan yang masih sangat rapat. Kanan kiri ranting-ranting berduri masih setia menghalangi jalan setapak. Daun-daun basah terkena kabut. Trek sering datar, hanya satu dua menanjak tak begitu sulit. Dua anak sungai kami lewati. Pertigaan agak besar memberikan tawaran jalan kepada kami. Sang kepala pasukan memilih jalur ke kiri. Dan cahaya mentaripun sudah dari tadi hilang, melanjutkan tugasnya menyinari belahan bumi yang lain.

19.xx

STUCK! Beberapa kawan meminta kami istirahat di jalan. Di depan terdapat pertigaan lagi, namun dua-duanya jalanan curam, belum terjamah. Tak terlihat tanda-tanda sering dilewati manusia. Kunang-kunang mulai marak di sisi kanan kiri. Bintang-bintang berkelap kelip di balik pepohonan tinggi. Kepala pasukan meminta kembali ke pertigaan tadi. Dua kawan kami mendahului kami mengambil jalan ke kanan dari pertigaan tadi, memeriksa jalan yang benar. Dua kali lagi menyeberangi anak sungai.

Trek mulai terasa licin, entah dari kabut atau gerimis. Tapi sang bintang masih asik mengerlipkan cahayanya diatas sana, entah cahaya berapa juta tahun yang silam yang kuterima. “Plak! Buk!” Beberapa kali kawan terjatuh, alas kaki yang sudah basah, jalanan yang menanjak, badan yang lelah, beban yang berat membuat kawan kami tak bisa menyeimbangkan badannya. “GAK BISAA! MUNDUUUR!” teriak kawan yang ada di depan. “Tak mungkin ini jalan yang benar, di depan ada sungai, dalamnya sepahaku” Terengah tim pencari jalan menceritakan kepada kami. Diputuskanlah malam itu kami membuat tenda darurat di pertigaan tadi.

21.xx

Tenda didirikan, stok logistik dikeluarkan. Beberapa kawan memasak air dan makanan. Aku dan beberapa kawan melingkari sepiring mi goreng+nasi goreng yang entah siapa yang memasakkan dan membawa nasi ini. Sepiring mi goreng dan segelas bandrek kami nikmati berenam, atau bahkan terkadang lebih! Karena gelas itu bergerak sesuai bunyi “bagiiii”.

Malam itu hanya satu yang tidur di luar, bernaungkan flysheet tanpa dinding-dinding tenda. Sepertinya sang Ketua perjalanan ini sedang mencari nomer togel, atau mungkin ada janji dengan penghuni setempat, aku tak mengerti.

Jum’at, 18 Mei, Hutan belantara.
06.xx

Seperti halnya kegiatan para pendaki lain. Selain sholat, makan, pastilah beres-beres melanjutkan perjalanan. Empat orang kawan yang sudah berbekal kompas, peta topografi mengambil arah kiri untuk mencari jalan yang benar. Sisanya membereskan tenda dan peralatan pribadi. Namun entah kegilaan setan mana yang merasukiku. Di saat yang lain sedang berusaha mencari kehangatan dari segelas air hangat, atau lilitan sarung. Aku menelusuri hulu sungai, mencari spot yang belum terjamah. Membongkar bebatuan dan memindahkannya. Lalu menceburkan diri ke dalam air yang suhunya mendekati titik beku itu. Menikmat dinginnya air merasuki ke seluruh tulang-tulangku. Lalu duduk di tepian sungai sambil memperhatikan bunyi gemericiknya.

Sejam lebih tim penelusuran belum kembali. Dari jalan sisi kanan terdengar suara teriakan manusia. Tak seorangpun dari kami mengenal suara itu. Hentakan kaki yang berlari kian terdengar. Empat orang manusia beralmamater sebuah universitas yang kami temui di Dusun Cibutarua kemarin keluar dari belantara hutan. Peluh dan nafasnya sudah tak terkendali, namun senyum sumringanyah tak bisa disembunyikan dari kami. “Sudah ke Tegal Panjang? Kami tersesat, dan mendirikan di tenda di ujung hutan sana” “yaaaaaaa sama dong” serentak kami menjawab. Air hangat yang masih tersisa kami tawarkan, keempat manusia yang tak kami kenal ini meminta izin untuk memasak. Jika kanan juga bukan jalan yang benar ke Tegal Panjang, berati kawan kami yang kekiri pasti mendapatkan jalan yang benar.

30 menit lebih sudah sejak kedatangan empat manusia itu. Dua dari empat tim pencari kami kembali. Gelengan kepala dan tundukan wajah yang kami terima. Ah, pasti yang dua benar jalannya! Pikirku. Tepat pada keempat manusia ini selesai makan, dua tim pencari jalan yang lain kembali. Lelah tergambar dari wajahnya, peluh turun deras di pagi yang dingin ini. Sama seperti tim yang pertama, mereka hanya menggelengkan kepala. Tak menemukan jalan ke Tegal Panjang. Kami hanya saling memandang, bertanya dalam hati apa yang harus dilakukan.

4 comments so far

  1. Indra on

    “Malam itu hanya satu yang tidur di luar, bernaungkan flysheet tanpa dinding-dinding tenda. Sepertinya sang Ketua perjalanan ini sedang mencari nomer togel, atau mungkin ada janji dengan penghuni setempat, aku tak mengerti.”

    coba aja di cek ke yang bersangkutan…. dah dapet nomernya blom hahahaha

    • eruvierda on

      saya memang ada janji dengan penghuni setempat🙂
      dan sepertinya saat itu adalah pilihan yang mau tidak mau harus dilakukan….

  2. Simanusia on

    Nungguin next chapter..

  3. endang iswara on

    salam lestari
    hanya sekedar ingin ikut berbagi, sy salah satu pengagum keheningan tegal panjang (pengalengan) th. 2009 sy hadir di savana tegal panjang, memang hanya sedikit informasi mengenai jalur tegal panjang khususnya dr pengalengan, hanya berbekal kompas, peta dan petunjuk dari petani kebun yang kami temui sepanjang jalan menjadi informasi yang sangat berharga bagi kami.
    sampai menit ini saya sering membuka kembali lembaran2 tegal panjang, hanya tuk sekedar mengenang dingin, hening dan sepinya tegal panjang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: