Hantu di Depan Pintu

Di pintu kamar aku bertemu hantu. Ceking. Jangkung. Topi runcing bak para penyihir. Kulit mukanya keriput, sedang matanya seperti hendak melompat dari tengkoraknya. Jubah putihnya menjuntai ke lantai. Hantu itu berdiri. Diam. Wajahnya mengerikan dan terlihat sedih. Hantu itu perempuan. Mirip nenek sihir musuh Nirmala. Tapi tidak cerewet. Hanya berdiri menghalangi jalan. Aku hendak pindah kamar. Dari kamar depan ke kamar tengah. Dari ranjang ayah ke ranjang ibu. Dari bantal bau ke bantal wangi.

 

Hantu yang benar-benar pendiam. Hanya bayangannya yang tak berhenti bergerak. Memanjang di ruang tengah rumah, duduk di kursi, berdiri di atas meja, memanjat lemari, dan bergelantungan di langit-langit. Ruang tengah rumah seperti sirkus. Sirkus yang sedih. Aku dan hantu saling berhadapan. Dekat sekali. Hantu itu menatapku dan aku menatap bayangannya yang terus saja jumpalitan di udara. Bayangkan, jumpalitan di udara tanpa sapu atau tonggkat ajaib.

 

Jam berdentang satu kali. Jam kuno yang sombong. Jam yang menempel di tembok bersama potret-potret nenek moyang. Tentu saja nenek moyang. Potret hitam putih kecoklatan. Dari mulai kakek, nenek, butuy, bao, janggawareng, udeg-udeg, gantung siwur, bau sinduk. Tujuh turunan. Apa mungkin hantu ini juga salah satu dari mereka? Para leluhur yang bosan terpasang di tembok?

 

Namun pikiranku lebih jauh lagi melambung. Menerka-nerka apa mungkin ini Sunan Ambu yang sering diceritakan ibu? Atau Nini Anteh sang penjaga bulan? Sunan Ambu rasanya tidak mungkin. Dia selalu diceritakan ibu sebagai sosok yang cantik, anggun, dan penuh senyum. Sering kubayangkan seperti bunga melati. Nah, kalau Nini Anteh bisa jadi. Nenek penjaga bulan itu menenun kesepian, menenun kesedihan, seumur hidup sendirian tinggal di bulan. Tidak sendiri. Berdua dengan kucing kesayangannya. Meong.

 

Pasti ini Nini Andeh, apalagi bayangannya begitu lincah, cekatan, dan nakal. Mirip para pemain akrobat, mirip badut di panggung sirkus. Tidak salah lagi bayangannya itu adalah Meong. Kucing kesayangannya. Memang gerakannya seperti kesedihan yang meronta-ronta. Ya, tentu sedih jika seumur hidup hanya menemani seorang nenek yang sedih dan kesepian. Bayangkan saja, tinggal di bulan berdua. Selamanya.

“bulan tok, bulan tok, bulan sagede batok…” tanpa sadar aku bernyanyi. Nyanyian yang sering dibisikkan ibu jika sedang memandang purnama dari jenedela kamar. Pelan. Setiap dihantui rasa takut atau merasa ditakuti si hantu, aku memang suka bernyanyi, agar keberanian muncul. Siapa yang tidak takut bertemu hantu? Sekalipun hantu yang sedih. Sekalipun hantu itu kuyakini sebagai Nini Anteh. Nyanyian itu kuulang-ulang. Jika benar Nini anteh tentunya akan membuatnya gembira, nyanyian itu isinya tentang bulan. Tentang rumah abadinya.

 

Bulu kuduk yang sempat berdiri, mulai tidur lagi. Hantu itu mulai terlihat bergerak-gerik. Kepalanya. Sedikit.

Matanya tak lagi mendelik sedih. Jari-jari tangannya yang lancip bergerak pula. Bayangannya, yang kuyakini si Meong makin lincah, berayun-ayun di lampu antik.

Aku terus bernyanyi. Sekaan-akan drfsnh berada di bulan.

Aku ingin melompat ke punggung bayangannya. Punggung si meong, ikut bermain akrobat, jumpalitan. Mendaki tembok dinding. Keluar masuk potret-potret hitam putih. Bergelantungan di langit-langit. Berayun di lampu antik. Meloncat masuk ke dalam jam. Tapi hantu sedih itu, Nini Anteh itu, tetap berdiri di depan pintu. Sekalipun tuuhnya mulai bergerak, tapi hanya bergerak di tempat. Mirip boneka Rusia yang difilmkan itu. Matanya masih menatap ke arah mataku. Padahal mataku terus berlarian mengejar gerak nakal si Meong.

 

“Matikan lampunya! Cepat tidur, ini sudah larut malam!” suara ayah dan ibu muncul bersamaan dari kamar depan dan kamar tengah.

 

Spontan kutempelkan jari ke bibir. Memberi isyarat agar seisi ruang tengah diam. Padahal yang bersuara sejak tadi hanya aku yang bernyanyi dan jam yang sesekali berdentang, juga jangkrik dan kodok di luar sana. Aku lupa tak ada yang bersuara di ruangan ini. Hantu dan bayangannya, Nini Anteh dan Si Meong tak memiliki suara. Aku lupa, seperti ayah dan ibu yang lupa kalau letak saklar lampu itu masih satu jengkal di atas uluran ujung jariku, sekalipun aku berjinjit.

 

Sebenarnya, aku yang benar-benar lupa. Sesungguhnya tak ada ayah di kamar depan dan tak ada ibu di kamar tengah. Merek tak ada. Di kedua kamar itu hanya ada ranjang, kasur, bantal, dan potret. Oh, dan sebuah mesin perekam suara. Mereka sengaja merekam suara mereka, dan akan terdengar dalam waktu yang bersamaan. Ayah dan ibu selalu pulang pagi. Melambaikan tangan lalu pergi tidur ke kamar masing-masing.

 

Suara rekaman ayah dan ibu berakibat cukup parah. Ruang tengah mendadak seperti beku. Tak ada lagi gerak-gerik. Tak ada akrobat. Ini baru menakutkan! Taka da kehidupan. Hanya suara detik yang congkak. Sangat congkak. Seperti mengejek kesendirianku, jika hantu ini tak di depanku dan masih melototiku.

 

Hantu di depan pintu seperti patung batu kelabu. Bayangnnya mengempis tergantung di ujung angklung yang terpajang di sudut ruangan.

 

“bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…” bisikku lebih pelan dari tadi. Aku serasa membisikkan jampi-jampi, mantera untuk menyembuhkan ruang tengah rumahku. Menyembuhkan Nini Anteh dan si Meong. Suara ayah dan ibu seperti halnya mimpi buruk.

 

“bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…” bisikku pelan mendekat ke kuping Nini Anteh. Aih, kupingnya berggerak. Kucingnya menggeliat.

 

“bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…” bisikku sambil menggenggam jemarinya. Ahh, tubuhnya bergerak lagi. Seperti ingin menari. Kucingnya bangkit.

 

“bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…” bisikku gemetar merasakan jemarinya yang lancip balik menggenggam erat jemariku.

 

Matanya mengerling, bibirnya tersenyum. Betapa perih bibir sedih itu berusaha tersenyum. Aku sekan melihat kesedihan berguguran seperti daun jambu air di pekarangan.

 

Kubisikkan lagi nyanyian, tiba-tiba jubahnya terbuka. Sinar perak bulan purnama memancar. Di balik jubahnya terhampar purnama. Di udara, Meong meliuk-liuk seperti penari, sebelum melompat indah masuk ke dalam benderang cahaya dalam jubah. Jubah yang terus terbuka seperti pintu, di dalamnya terdapat ruang penuh cahaya.

Aku pelan-pelan masuk ke dalam jubah, mengejar Meong. Aku masuk dan terkejut. Hamparan batu-batu memancarkan cahaya kebiruan. Pohon-pohon perak. Beberapa burung berawarna tembaga berkicau. Kupu-kupu berwarna terang berterbaran, sesekali hinggap di rerumputan yang basah oleh cahaya. Meong melangkah di atas ebuah batu. Di bawah langit hijau keemasan. Mirip warna batu akik kesayangan ayah.

 

Apakah ini rumah Nini Anteh? Nenek yang selalu kesepian itu. Aku masuk ke dalam jubahnya. Berarti aku masuk ke dalam tubuhnya. Ini bukan rumah Nini Anteh, tapi ini adalah tubuhnya. Aneh sekali, padahal tubuhnya tampak mengerikan dari luar. Tapi di dalamnya begitu indah. Apakah begini isi tubuh kesepian, tubuh kesedihan?

 

Meong sekarang benar-benar terlihat seekor kucing. Bulunya tebal berawarna cahaya bulan, ekornya panjang, dan matanya hijau toska. Di atas batu, ia menatapku, tatapannya persis tatapan NIni Anteh.

Tak ada Nini anteh di dalam tubuh Nini Anteh. Hanya amela caya yang memancar, berpendaran, seperti ladang cahaya. Segalanya memancarkan cahaya. Tanah, batu, rumput, pepohonan, satwa. Seakan debu cahaya berhamburan di mana-mana. Ada peri-peri mungil berterangan sambil bernyanyi. Kudengar nyanyiannya mirip dengan nyanyian yang kunyanyikan. Nyanyian yang diajarkan ibu. Ibu belajar nyanyian itu dari nenek. Nenek dari buyut, terus begitu.

 

Ah, nyanyian ini pasti berasal dari Sunan Ambu. Bukankah Sunan Ambu adalah ibu dari kehidupan ini. Pasti peri-peri kecil itu belajar dari Sunan Ambu. Apakah akan ada Sunan Ambu dalam tubuh nini Anteh? Atau seluruh cahaya ini sesungguhnya adalah Sunan Ambu?

 

Aku berlari. Ah, kakiku melayang! Aku terbang! Aku terbang seperti Peter Pan! Seperti Doraemon! Seperti Superman!

 

“Ayo kesini!” Meong memanggil sambil melambai. Merdu sekali suaranya! Kini aku tahu kenapa dia betah dtinggal bersama Nini Anteh. Tidak. Dia tidak tinggal bersama Nini Anteh. Tapi dia tinggal dalam Nini Anteh. Dia punya segalanya dalam NIni Anteh. Kucing itu seprti bersayap. Begitu gagah.

 

Setelah puas melayang-layang, terbang ke arah burung perak, jumpalitan bersama peri-peri, menggoda kupu-kupu, mengelus daun dan dedaunan. Aku mendekati Meong. Hinggap dan berdiri di atas batu, tepat di sampingnya.

Betapa menakjubkan. Dari atas batu, nampak sebuah telaga tujuh warna. Telaga pelangi. Beberapa perahu berlayar dengan tenang. Burung, peri, dan ikan berterbangan. Seorang putri sedang bernyanyi sambil memetik kecapi di atas awan tipis. Seorang pangeran melepas panah ke langit. Berhamburan kembang api di udara.

 

“tempat apakah ini?” aku berbisik sambil mengelus bulu-bulu cahaya Meong.

“inilah hati Nini Anteh” Meong tersenyum manis

“apakah aku boleh kesana?” aku tak sadar menarik-nariknya.

“apa yang tak bisa di hati Nini Anteh”

“tapi kenapa Nini Anteh terlihat sedih?”

“siapa yang tidak sedih melihat anak kecil yang sedih sendiri, kesepian. Sendiri saat bulan purnama”

“aku tidak sendiri!”

“ya. Di sini kita tidak sendiri. Lihat!” Meong berdiri dengan dua kaki belakangnya. Bak manusia kucing.

Aku memekik. Semua dongeng berlarian di atas telaga. Oki dan Nirmala, Peter Pan, Doraemon, Donal Bebek, anjing Pluto, pufflepuf ah! Semuanya muncul dari air mancur di tengah telaga. Ah, banyak sekali!

“Ungu, ungu, ungu…!” mereka semuanya memanggil namaku. Namaku? Bagaimana mereka tahu namaku?

 

“semua tahu nama anak yang kesepian” Meong melompat dan melayang, bergabung dengan pengisi telaga pelangi.

“semua berasal dari sini. Dari hati Nini Anteh” teriak Meong. Aku mengejarnya. Menjatuhkan diri di atas awan tipis. Menerobos kembang api yang lembut. Meluncur menuju air mancur. Ini melebihi mimpi. Aku berada di mata air segala dongeng. Betapa menyenangkan. Aku bermain bersama semua dongeng. Bergembira seperti sebuah keluarga. Keluarga dongeng dalam tubuh Nini Anteh. Ada banyak yang kukenal namanya. Ada banyak lagi yang harus kuberi nama. Tahu-tahu Meong sudah ada di sampingku.

 

“Kau tak ingin pulang?”

Aku tersentak. Pulang? Pulang kembali ke dentang jam yang sombong

“semuanya ada di sini kan?” Meong menyeringai dengan riang.

Semua? Tidak juga. Di sini, sama saja dengan di rumah, tidak ada ayah dan ibu.

“ayo bermain lagi. Hati Nini Anteh masih luas untuk dijelajahi” Meong mengejar tujuh kurcaci.

“Hey! Apa kau tahu Sunan Ambu? Apa ia ada di sini?” aku terbang mengejarnya.

Meong mendadak berhenti. Memandangku tajam

“Aku ingin bertemu dengannya. Ibu pasti bahagia mendengarnya, bukankah Sunan Ambu ibu dari semua ibu?” Aku merengek.

Meong menggeleng.

“bukankah semuanya ada di dalam hati NIni Anteh?” aku tak percaya pada Meong.

“Sunan Ambu tidak ada dalam hati Nini Anteh. Tapi Nini Anteh ada dalam hati Sunan Ambu” jawab Meong sambil menerawang langit yang sangat indah.

“lantas, dimana Sunan Ambu bisa kutemui?”

Meong ragu-ragu menunjuk dadaku.

“Disini?” aku gemetar meraba dada

“Ya. Di hatimu. Di hatimu… di hatimu! Hanya di hatimu. Tak ada di mana-mana. Hanya di hatimu. Andai kami memiliki hati…” serentak seluruh pengisi hati Nini Anteh bernyanyi bersama. Mereka seprti cemburu. Namun tetap riang gembira. Mengelilingiku. Mengajak menari. Aku menari dan bernyanyi. Diam-diam sambil merindukan ibu. Ya. Akan kuceritakan pada ibu. Sudah kuketahui tempat tinggal Sunan Ambu.

 

Kami terus menari dan bernyanyi. Di hati Nini Anteh, terbang, jumpalitan, saling kejar. Aku terus bernyanyi dan menari. Di depan pintu kamar.

 

“Bangun. Sudah pagi! Cepat mandi!” suara ayah dan ibu dari kamar depan dan tengah.

Suara jam yang sombong cepat menyahut dengan dentang-dentang yang gemangnya memanjang. Enam kali dentang. Di depankku, Nini Anteh melambai, dalam Nini Anteh, Meong melambai. Mereka hilang ditelan gema suara jam.

 

Aku berlari ke kamar ibu. Ingin kuceritakan semuanya, apalagi tentang sunan Ambu. Tapi tak ada ibu di kamar. Yang ada hanya rekaman suara ibu. Aku lupa kadang ibu memang tak pulang berhari-hari. Apalagi ayah, tapi tak lupa Sunan Ambu ada dalam hatiku. Hatiku. Di hati ibu juga. Hati ayah juga, pasti. Tak peduli mereka ada dimana.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: